Pendahuluan: Sebuah Pembunuhan Karakter yang Sistematis
Selama lebih dari dua milenium, teologi Yudeo-Kristen telah membangun sebuah narasi besar yang meminggirkan Ismail a.s. Ia digambarkan sebagai tokoh antagonis: anak dari seorang budak, tidak terpilih, liar, dan hidupnya penuh sengketa.
Narasi ini bukan sekadar dongeng masa lalu, melainkan sebuah konstruksi teologis yang disengaja. Tujuannya satu: menjustifikasi mengapa “Janji Allah” dan “Hak Kesulungan” seolah-olah menjadi milik eksklusif Ishak dan keturunannya (Bani Israel), sekaligus menutup pintu bagi kenabian Muhammad ﷺ.
Namun, benarkah Tuhan membuang Ismail? Jika kita jujur membedah teks kitab suci mereka sendiri—menggunakan standar akademis yang ketat—dan membandingkannya dengan temuan arkeologi terbaru seperti Dead Sea Scrolls (Gulungan Laut Mati), kita akan menemukan fakta yang mengejutkan. Telah terjadi distorsi sistematis (tahrif) untuk menghapus jejak Ismail dari panggung sejarah.
Artikel ini akan merehabilitasi nama besar Ismail a.s., bukan dengan klaim emosional, melainkan dengan bukti dari kitab suci mereka sendiri.
1. Status Hukum: Anak Haram atau Pewaris Sah?
Serangan teologis pertama yang sering dilancarkan adalah menyerang status kelahiran Ismail. Para apologet Kristen sering melabeli Ismail sebagai “anak gundik” atau “anak budak” yang secara hukum tidak berhak mewarisi janji, berbeda dengan Ishak yang lahir dari wanita merdeka (Sarah).
Mari kita uji klaim ini langsung ke sumber utamanya: Teks Ibrani Kitab Kejadian.
Dalam Kejadian (Genesis) 16:3, teks Ibrani mencatat dengan jelas momen pernikahan Abraham dengan Hagar:
“Lalu Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya… lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya.”
Mari kita bedah secara linguistik:
-
Teks Ibrani menggunakan kata “le-ishshah” (לְאִשָּׁה). Dalam leksikon Ibrani standar, Ishshah berarti Istri (Wife).
-
Alkitab TIDAK menggunakan kata Pilegesh (Gundik/Concubine) untuk Hagar.
Dalam hukum Timur Dekat Kuno (Ancient Near East Law) maupun hukum Alkitab, status seorang wanita berubah total saat ia dinikahi secara sah. Hagar bukan lagi budak, melainkan istri. Maka, Ismail adalah Putra Sah (Legitimate Son) Abraham.
Tidak ada satu pun pasal dalam hukum Tuhan yang menyatakan bahwa anak dari istri kedua memiliki hak lebih rendah daripada anak istri pertama. Narasi “anak budak” hanyalah upaya delegitimasi yang tidak memiliki dasar hukum dalam teks aslinya.
2. Fitnah “Keledai Liar” (Wild Donkey of a Man)
Salah satu penghinaan paling menyakitkan yang sering dikutip misionaris untuk menyerang karakter Ismail (dan bangsa Arab) berasal dari terjemahan Kejadian 16:12. Dalam terjemahan standar (seperti Terjemahan Baru/TB), malaikat Tuhan seolah-olah mengutuk Ismail:
“Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu…” (Kejadian 16:12 – TB)
Benarkah Tuhan menyamakan anak Abraham dengan binatang yang bodoh? Ini adalah contoh klasik dari Bias Penerjemahan. Mari kita bedah kata aslinya dalam bahasa Ibrani: “Pere Adam” (פֶּרֶא אָדָם).
-
Pere (פֶּרֶא): Kata ini merujuk pada Onager (Keledai Gurun). Namun, dalam sastra Semit kuno, hewan ini bukanlah simbol kebodohan atau kerendahan seperti keledai ternak (donkey). Sebaliknya, Pere adalah simbol Kebebasan, Kemuliaan, dan Independensi. Hewan ini tidak bisa dijinakkan oleh manusia, hidup bebas di alam liar, dan tangguh bertahan hidup.
Bahkan Kitab Ayub (Job 39:8-11) memuji hewan ini sebagai ciptaan Tuhan yang mulia dan bebas, yang “menertawakan keramaian kota” dan tidak tunduk pada pecut penggiring.
-
Adam (אָדָם): Manusia.
Jadi, makna Pere Adam bukanlah “Manusia Keledai”, melainkan “Manusia yang Bebas Merdeka” (A Free/Prolific Man).
Nubuat ini sejatinya sangat positif: Ismail dan keturunannya tidak akan pernah bisa diperbudak atau didominasi total oleh bangsa asing. Sejarah membuktikan kebenarannya! Bangsa Arab (Ismail) tidak pernah benar-benar bisa dijajah atau ditaklukkan secara total oleh Imperium Romawi, Persia, maupun kolonial modern. Mereka tetap menjadi manusia merdeka di tanah mereka, sesuai janji Tuhan.
3. Janji “Goy Gadol”: Definisi yang Disembunyikan
Dalam Kejadian 17:20, Tuhan memberikan janji spesifik untuk Ismail:
“Tentang Ismael… Ia akan Kuberkati… dan akan Kubuat dia menjadi bangsa yang besar (le-goy gadol).”
Para teolog Yahudi seperti Maimonides mencoba mengecilkan makna ayat ini dengan standar ganda. Mereka mengklaim “Bangsa Besar” untuk Ismail hanya bermakna “jumlah populasi yang banyak” (secara biologis/fisik), sedangkan untuk Ishak bermakna “bangsa pilihan” (secara spiritual/teologis).
Ini adalah ketidakjujuran akademis. Mari kita lihat definisi Alkitab yang konsisten. Dalam Ulangan (Deuteronomy) 4:6-8, definisi “Bangsa Besar” (Goy Gadol) harus memenuhi syarat:
-
Memiliki hukum/undang-undang yang adil.
-
Memiliki kedekatan dengan Tuhan (Tauhid).
-
Memiliki kebijaksanaan spiritual.
“Sebab bangsa besar (goy gadol) manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya… Dan bangsa besar manakah yang mempunyai ketetapan dan peraturan yang demikian adil…?” (Ulangan 4:7-8)
Jika Tuhan konsisten dengan definisi-Nya sendiri, maka janji menjadikan Ismail Goy Gadol bermakna keturunannya dijanjikan Kenabian dan Syariat (Hukum), bukan sekadar banyak anak. Sejarah membuktikan, satu-satunya keturunan Ismail yang membawa hukum (Syariat) dan mengubah bangsa penyembah berhala menjadi penyembah Satu Tuhan adalah Nabi Muhammad ﷺ.
4. Skandal Matematika “Anak Tunggal”
Di sinilah letak bukti manipulasi (tahrif) yang paling telanjang. Dalam kisah pengorbanan di Kejadian 22:2 (Akedah), Tuhan berfirman kepada Abraham:
“Ambillah anakmu yang tunggal itu (yachid), yang engkau kasihi…”
Dalam versi Alkitab sekarang, nama yang disebut setelahnya adalah Ishak. Namun, mari kita gunakan logika matematika sederhana yang tak terbantahkan:
-
Ismail lahir saat Abraham berusia 86 tahun (Kejadian 16:16).
-
Ishak lahir saat Abraham berusia 100 tahun (Kejadian 21:5).
-
Artinya, selama 14 tahun, Ismail adalah Satu-Satunya Anak (Anak Tunggal) Abraham.
-
Setelah Ishak lahir, Abraham memiliki dua anak. Ishak tidak pernah sedetik pun menjadi “anak tunggal”.
Predikat “Anak Tunggal” (Yachid) secara logis dan kronologis HANYA valid untuk Ismail. Lantas, mengapa teks Alkitab sekarang menyebut nama Ishak?
Hanya ada dua kemungkinan: Tuhan salah berhitung (Mustahil bagi kita), atau tangan manusia mengubah nama “Ismail” menjadi “Ishak” di kemudian hari, namun mereka ceroboh dan lupa menghapus kata “tunggal” yang menjadi jejak kejahatan (fingerprint) mereka.
5. Bukti Forensik: Naskah Laut Mati (4Q225)
Apakah tuduhan pengubahan teks ini hanya klaim sepihak Muslim? Tidak. Arkeologi membuktikannya.
Pada abad ke-20, penemuan Dead Sea Scrolls (Gulungan Laut Mati) mengguncang dunia biblika. Salah satu fragmen berkode 4Q225 (The Pseudo-Jubilees) memuat versi kisah pengorbanan yang berbeda.
Penulis naskah kuno ini tampaknya menyadari masalah kronologis “Anak Tunggal” tersebut. Ia sadar bahwa Ishak tidak mungkin disebut anak tunggal jika Ismail ada. Namun, alih-alih mengakui Ismail, penulis naskah ini melakukan langkah ekstrem: Dia menghapus kelahiran Ismail dari teks!
Dalam fragmen 4Q225, narasi dipotong sedemikian rupa sehingga seolah-olah Ismail tidak pernah ada, agar predikat “Anak Tunggal” bisa pas ditempelkan pada Ishak. Ini adalah bukti fisik (smoking gun) bahwa para penyalin kitab suci di masa lalu tidak ragu-ragu memotong, menambah, dan mengedit firman Tuhan demi kepentingan teologis dan kesukuan mereka.
Praktik inilah yang disebut Al-Qur’an sebagai “Yuharrifunal kalima ‘an mawadhi’ih” (Mereka mengubah kata-kata dari tempatnya).
6. Motif Kejahatan: Kecemburuan (Hasad)
Mengapa mereka melakukan distorsi sejarah yang begitu masif? Seorang ulama Yahudi yang masuk Islam di zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah memberikan jawaban jujur yang membongkar motif psikologisnya:
“Ismail, demi Allah! Orang-orang Yahudi mengetahui hal ini, tetapi mereka cemburu kepada kalian (orang Arab) karena bapak kalianlah yang diperintahkan Tuhan untuk dikorbankan…” (Tafsir Ibnu Katsir).
Kecemburuan (Hasad) adalah penyakit tua. Ego kesukuan membuat mereka tidak bisa menerima fakta bahwa berkat Tuhan jatuh kepada anak Hagar. Mereka menulis ulang sejarah untuk memonopoli surga dan kenabian, seolah-olah Tuhan hanya milik Bani Israel semata.
Kesimpulan: Kebenaran yang Tak Bisa Dikubur
Melalui bedah fakta di atas, kita menyimpulkan bahwa rehabilitasi nama Ismail a.s. adalah sebuah keharusan teologis untuk meluruskan sejarah agama samawi.
-
Secara Hukum: Ismail adalah anak sah dari istri sah, bukan anak haram.
-
Secara Linguistik: Ismail adalah “Manusia Merdeka” yang mulia, bukan keledai liar.
-
Secara Teologis: Ismail adalah “Bangsa Besar” pembawa Syariat, bukan sekadar bangsa yang banyak jumlahnya.
-
Secara Tekstual: Ismail adalah “Anak Tunggal” yang dikorbankan.
Rencana Tuhan tidak pernah gagal. Meskipun manusia berusaha menghapus nama Ismail dari lembaran kitab suci, Tuhan mengabadikan namanya melalui datangnya Sang Nabi Penutup, Muhammad ﷺ, yang menyempurnakan janji Abraham bagi semesta alam.
Tulisan ini merupakan bagian pertama dari Serial Resensi Buku “Abraham Fulfilled: A Biblical Study of God’s Plan for Ishmael and Arabia” (2024) karya Adnan Rashid, Abu Zakariya, & Zakir Hussain. Buku ini adalah studi komprehensif yang membongkar nubuat tentang Islam dalam Alkitab dengan pendekatan akademis.
Jika Ismail adalah pewaris janji yang sah, lantas di manakah nubuat kedatangan Nabi Muhammad ﷺ tertulis secara spesifik? Di artikel selanjutnya, kita akan membedah “Misteri Ulangan 18:18”: Mengapa Yesus tidak memenuhi kriteria Nabi Seperti Musa, dan mengapa hanya Muhammad ﷺ yang memenuhinya?

