Wahai Ukhti Muslimah,
Tahukah engkau, bahwa penciptaanmu di dunia ini menempatkanmu pada sebuah posisi yang sangat ekstrem dan menentukan? Engkau tidak diciptakan untuk berada di zona abu-abu atau menjadi makhluk yang “biasa-biasa saja”. Dalam timbangan syariat Islam, eksistensimu memiliki bobot yang begitu dahsyat. Engkau hanya bermuara pada dua predikat yang saling bertolak belakang: menjadi anugerah terindah yang pernah ada di muka bumi, atau menjadi bencana terbesar yang menghancurkan peradaban manusia.
Mungkin hatimu berbunga-bunga, dan engkau merasa begitu dimuliakan ketika membaca sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sering engkau jadikan status di media sosialmu:
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Dunia adalah perhiasan (kesenangan), dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 1467)
Hadits ini adalah mahkota bagi setiap muslimah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan kata Mata’ yang bermakna sesuatu yang dinikmati atau perhiasan. Emas, perak, kendaraan mewah, dan rumah megah adalah Mata’. Namun, beliau menegaskan bahwa engkau—seorang wanita yang shalihah—adalah puncaknya. Engkau lebih berharga daripada tumpukan emas sepenuh bumi. Keberadaanmu membawa ketenangan (sakinah) yang tidak bisa dibeli dengan dinar dan dirham.
Namun, Saudariku, kejujuran ilmiah menuntut kita untuk tidak terlena hanya pada satu sisi dalil. Kita tidak boleh menutup mata pada peringatan keras yang juga keluar dari lisan mulia Nabi yang sama. Sebuah peringatan yang mungkin terdengar “pahit” di telinga wanita modern, namun merupakan obat bagi mereka yang berakal. Beliau bersabda:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (ujian/bencana) yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita.” (HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740)
Perhatikanlah diksi yang Nabi pilih: “Adharru Fitnah” (Fitnah yang paling memudaratkan/berbahaya). Beliau tidak mengatakan harta, tahta, atau kekuasaan sebagai bahaya terbesar. Beliau menyebutmu. Ya, dirimu.
Mengapa Engkau Begitu Berbahaya?
Mungkin engkau bertanya-tanya, “Mengapa Islam seolah memojokkan wanita sebagai sumber masalah?”
Ketahuilah, hadits ini bukan bentuk kebencian, melainkan bentuk pengakuan akan kekuatan pengaruhmu. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam kitab syarah hadits monumental, Fathul Bari (Jilid 9, Hal. 138), menukil perkataan Ibnul Batthal. Beliau menjelaskan bahwa fitnah wanita disebut sebagai yang paling berbahaya karena syahwat laki-laki terhadap wanita adalah syahwat yang paling dominan dan sulit dikendalikan. Demi seorang wanita, akal sehat seorang laki-laki cerdas bisa hilang seketika. Demi wanita, darah bisa tertumpah, silaturahmi bisa terputus, dan yang paling mengerikan: demi wanita, seorang hamba bisa nekat menerjang larangan Allah.
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim (Jilid 17, Hal. 53) juga menegaskan bahwa wanita disebut fitnah karena laki-laki mudah terperdaya dengan mereka, condong hati kepada mereka, hingga akhirnya lalai dari tugas-tugas akhirat.
Saudariku, engkau adalah “Pedang Bermata Dua”.
Jika engkau taat kepada Allah, menjaga kehormatan (iffah), dan bersembunyi di balik hijab syar’i serta rasa malu, maka engkau adalah Perhiasan (Mata’). Engkau menjadi jalan surga bagi ayahmu, suamimu, dan saudara laki-lakimu.
Sebaliknya, jika engkau lalai, menanggalkan rasa malu, dan membuka celah fitnah—sekecil apa pun itu—maka engkau berubah menjadi Bencana (Dharar). Engkau menjadi seretan kencang yang melemparkan laki-laki ke dalam api neraka.
Target Utama Musuh Islam
Kekuatan dahsyat yang ada pada dirimu ini sangat disadari oleh musuh-musuh Islam. Mereka paham betul sejarah. Mereka tahu bahwa Bani Israil yang perkasa hancur bukan karena kalah perang fisik, melainkan karena wanita.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah memberikan analisis tajam mengenai hal ini. Dalam kitabnya, Syarah Riyadhus Shalihin (Jilid 1, Bab Muraqabah), ketika membahas hadits tentang fitnah Bani Israil, beliau berkata:
“Oleh karena itu, musuh-musuh kita dari kalangan Yahudi, Nasrani, dan orang-orang musyrik, serta orang-orang yang mengekor mereka… mereka sangat bersemangat untuk menjerumuskan umat muslim ke dalam fitnah wanita. Mereka mempropagandakan (kebebasan) wanita, mengajak wanita untuk tabarruj (bersolek), ikhtilath (campur baur), dan membuka wajah mereka.”
Beliau melanjutkan bahwa tujuannya hanya satu: agar kaum laki-laki umat ini sibuk dengan wanita, lalu lalai dari jihad dan pembangunan peradaban. Ketika wanita sudah rusak, maka rusaklah masyarakat.
Lihatlah realita hari ini, Saudariku. Apa yang dikhawatirkan oleh para ulama telah terjadi di depan mata kita.
Berapa banyak wanita muslimah yang hari ini merasa “berdaya” ketika ia tampil mempesona di media sosial? Padahal hakikatnya ia sedang dijadikan “alat” oleh setan dan musuh Islam untuk melemahkan iman para laki-laki. Engkau mungkin merasa hanya sekadar mengunggah foto diri dengan pakaian syar’i yang modis, atau membuat video singkat dengan cadar yang menawan. Tapi tahukah engkau, di seberang sana, ada ribuan mata laki-laki ajnabi yang “menikmati” keindahanmu, ada ribuan hati yang berdesir karena suara lembutmu, dan ada ribuan fantasi liar yang terbangun karena kehadiranmu di layar smartphone mereka?
Tanpa engkau sadari, engkau telah beralih fungsi. Dari yang seharusnya menjadi Khairu Mata’ (Perhiasan yang terjaga), menjadi fitnah yang menyebar lewat sinyal internet menembus dinding-dinding kamar laki-laki yang bukan mahrammu.
Sebuah Pilihan di Tanganmu
Maka, tulisan ini hadir bukan untuk menghakimimu. Tulisan ini adalah “alarm tanda bahaya” dari seorang saudara yang tidak ingin engkau menjadi bahan bakar api neraka, sekaligus tidak ingin engkau menjadi penyebab tergelincirnya saudaramu yang lain.
Pilihan itu kini ada sepenuhnya di tanganmu:
Apakah engkau ingin menjadi Sebaik-baik Perhiasan? Caranya adalah dengan kembali pada fitrahmu: tinggal di rumah, membalut diri dengan rasa malu, dan tidak haus akan pujian penduduk bumi.
Atau, engkau memilih menjadi Bencana Paling Berbahaya? Dengan terus menerus menebar pesona, menjadi konsumsi publik, dan membiarkan dirimu menjadi jaring-jaring setan yang memerangkap laki-laki dalam dosa?
Sungguh, menjadi asing (ghuraba) dengan memegang teguh syariat di zaman ini memang berat, tapi itulah satu-satunya jalan untuk tetap menjadi mutiara yang diridhai Allah.
Wallahu a’lam bish-shawab.


