Khutbah Jum’at : Terpujinya Ghirah & Tercelanya Dayuuts

Khutbah Jum’at : Terpujinya Ghirah & Tercelanya Dayuuts

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ

قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللّٰهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Pada kesempatan yang mulia ini, khatib akan mengangkat sebuah tema yang sangat fundamental dalam menjaga marwah dan kehormatan keluarga seorang mukmin. Tema ini adalah tentang sifat ghirah (rasa cemburu yang terpuji) dan lawannya, yaitu sifat dayyuts (hilangnya rasa cemburu). Sifat ini berkaitan erat dengan peran dan tanggung jawab kita sebagai pemimpin keluarga, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS. At-Tahrim: 6).

Ayat ini adalah landasan agung bagi setiap kepala keluarga. Perintah “peliharalah dirimu dan keluargamu” mencakup perlindungan dari segala sesuatu yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam api neraka, termasuk di dalamnya adalah perbuatan maksiat dan hilangnya rasa malu serta kehormatan.

Islam adalah agama yang sangat menjaga kehormatan dan kemuliaan pemeluknya. Di antara sifat mulia yang Allah tanamkan dalam hati seorang mukmin adalah ghirah. Ghirah secara bahasa berarti cemburu, namun dalam konteks syar’i, ghirah adalah rasa cemburu atau proteksi yang timbul karena kecintaan kepada Allah, agama, dan keluarga. Ini adalah semangat untuk menjaga kehormatan diri, pasangan, anak, dan seluruh keluarga dari hal-hal yang dapat mencoreng kemuliaan mereka di mata syariat dan masyarakat.

Makna ghirah jauh lebih dalam dan mulia dari sekedar cemburu. Ghirah adalah gejolak emosi yang timbul karena terusiknya kehormatan, baik kehormatan agama maupun kehormatan pribadi dan keluarga, yang mendorong seseorang untuk melindungi dan mempertahankannya. Ini adalah sifat yang tertanam dalam fitrah manusia yang lurus dan merupakan cerminan dari kesempurnaan imannya.

Sifat ghirah ini datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«إِنَّ اللهَ يَغَارُ، وَإِنَّ الْمُؤْمِنَ يَغَارُ، وَغَيْرَةُ اللهِ أَنْ يَأْتِيَ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ عَلَيْهِ»

“Sesungguhnya Allah cemburu (ghirah), dan orang mukmin juga cemburu. Kecemburuan Allah adalah karena jika seorang hamba melakukan apa yang Allah haramkan atasnya.” (Ahmad 10950)

Ghirah ini adalah tanda keimanan. Seorang suami yang beriman akan memiliki ghirah untuk menjaga istrinya, seorang ayah untuk putrinya, seorang saudara untuk saudarinya, dari segala bentuk fitnah, kemaksiatan, dan hal-hal yang merendahkan martabat mereka. Ghirah membuat kita tidak rela melihat orang-orang yang kita cintai terjerumus dalam dosa atau menjadi objek pandangan yang tidak halal, bahkan tidak rela kehormatan mereka direndahkan.

Sifat ghirah bukanlah sifat yang tercela, bahkan ia adalah sifat yang dipuji oleh Rasulullah.

Sa’ad bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu berkata,

لَوْ رَأَيْتُ رَجُلًا مَعَ امْرَأَتِي لَضَرَبْتُهُ بِالسَّيْفِ غَيْرَ مُصْفَحٍ،

“Seandainya aku melihat seorang laki-laki bersama istriku, niscaya akan aku pukul dia dengan pedang (pada bagian yang tajam).”

Ucapan ini sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda:

أَتَعْجَبُونَ مِنْ غَيْرَةِ سَعْدٍ، فَوَاللهِ لَأَنَا أَغْيَرُ مِنْهُ، وَاللهُ أَغْيَرُ مِنِّي، وَمِنْ أَجْلِ غَيْرَةِ اللهِ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَلَا شَخْصَ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ.

“Apakah kalian merasa takjub dengan ghirah (kecemburuan) Sa’ad? Demi Allah, sungguh aku lebih memiliki ghirah daripadanya, dan Allah lebih memiliki ghirah daripadaku. Karena ghirah-Nya, Allah mengharamkan segala perbuatan keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Tidak ada satupun yang lebih cemburu daripada Allah” (HR. Ahmad 18168).

Hadis ini menunjukkan betapa ghirah adalah sifat yang mulia. Ghirah seorang hamba adalah tanda cintanya kepada Allah, yaitu ketika ia marah melihat larangan-larangan Allah dilanggar. Dan ghirah seorang suami atau ayah adalah tanda cintanya kepada keluarganya, yaitu ketika ia tidak rela kehormatan istri dan anak-anaknya dinodai atau direndahkan.

Di era digital dan media sosial seperti sekarang, sifat ghirah ini menjadi semakin relevan dan bahkan krusial. Batasan-batasan fisik seringkali kabur di dunia maya. Informasi dan gambar tersebar begitu cepat dan luas. Jika dahulu menjaga kehormatan mungkin lebih banyak terkait interaksi fisik di ruang publik, kini tantangannya merambah ke dunia maya, di mana privasi mudah terkikis dan godaan bertebaran tanpa batas geografi.

Berikut adalah praktik ghirah yang harus dilakukan setiap pemimpin keluarga di era media sosial:

  1. Mengawasi penggunaan media sosial oleh anggota keluarga, khususnya istri dan anak-anak, agar tidak terjerumus dalam penyebaran foto atau video yang tidak pantas.
  2. Melarang keras penyebaran foto keluarga, terutama foto wanita, di media sosial yang dapat diakses oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
  3. Memfilter tontonan di rumah. Jangan biarkan istri dan anak-anak menonton tayangan yang merusak akhlak.
  4. Mencegah ikhtilat (campur baur) dengan lawan jenis di tempat kerja, pendidikan, atau aktivitas sosial.
  5. Menutup pintu fitnah seperti membiarkan istri atau anak perempuan bepergian dengan sopir sendirian tanpa mahram.

Inilah hikmah praktis dari ghirah di zaman sekarang. Ia bukan berarti mengekang atau memenjarakan, melainkan membimbing dan melindungi dengan penuh cinta, agar keluarga kita selamat dunia dan akhirat. Ghirah adalah wujud kepedulian dan tanggung jawab seorang Muslim.

Sebaliknya, ada sifat yang sangat tercela dan dikutuk dalam Islam, yaitu dayuuts. Lawan dari sifat ghirah adalah ad-dayyuts atau sifat diyatsah.

Dayyuts adalah istilah bagi seorang laki-laki (suami, ayah, atau saudara) yang tidak memiliki rasa cemburu atau ghirah terhadap anggota keluarga perempuannya, terutama istrinya, putrinya, atau mahramnya. Ia membiarkan, meridhai, atau bahkan memfasilitasi perbuatan maksiat dan hal-hal yang menodai kehormatan terjadi di dalam keluarganya. Ia membiarkan mereka berbuat maksiat, berinteraksi dengan lawan jenis secara tidak senonoh, atau tampil seronok tanpa ada rasa cemburu, tanpa ada upaya melarang atau menasihati.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلَاثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ: مُدْمِنُ الْخَمْرِ، وَالْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ، وَالدَّيُّوْثُ الَّذِيْ يُقِرُّ فِيْ أَهْلِهِ الْخَبَثَ

“Ada tiga golongan yang Allah haramkan surga atas mereka: pecandu khamr (minuman keras), orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, dan dayyuts yaitu orang yang membiarkan kemaksiatan (kekejian) pada keluarganya.”

Diharamkan masuk surga adalah ancaman yang luar biasa dahsyat. Ini menunjukkan betapa besarnya dosa seorang dayyuts. Ia telah mengkhianati amanah kepemimpinan yang Allah berikan kepadanya. Ia telah gagal menjadi “perisai” bagi keluarganya dari api neraka.

Betapa kerasnya ancaman ini! Seorang dayuuts dicabut rasa cemburunya oleh Allah, sehingga ia merelakan kehormatan keluarganya direndahkan, bahkan terkadang ia bangga atau justru memfasilitasi kemaksiatan tersebut demi popularitas, pujian manusia, atau keuntungan duniawi yang sesaat. Ia tidak peduli jika istrinya atau putrinya menjadi tontonan publik dengan busana yang mengumbar aurat, atau interaksi yang tidak pantas di media sosial.

 

Bentuk-bentuk Sifat Dayyuts di Era Modern

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Mungkin kita bertanya, seperti apakah wujud sifat dayyuts di zaman sekarang? Sifat ini bisa termanifestasi dalam berbagai bentuk, seringkali dengan dalih “modernitas”, “kebebasan berekspresi”, atau “saling percaya”. Mari kita waspadai beberapa di antaranya:

  • Membiarkan Istri dan Anak Perempuan Berpakaian Tidak Menutup Aurat: Seorang suami atau ayah yang membiarkan istrinya atau putrinya keluar rumah dengan pakaian ketat, transparan, atau membuka aurat, padahal ia mampu menasihati dan melarangnya, maka ia telah menunjukkan sifat dayyuts.
  • Meridhai Interaksi Bebas dengan Lawan Jenis yang Bukan Mahram: Termasuk di dalamnya membiarkan istri atau anak perempuan ber-khalwat (berduaan) dengan laki-laki non-mahram, berfoto mesra, atau bercengkrama tanpa batas di media sosial maupun di dunia nyata.
  • Bangga dengan Kecantikan Istri yang Dipamerkan: Seorang suami yang merasa bangga ketika istrinya menjadi pusat perhatian laki-laki lain karena kecantikan atau kemolekan tubuhnya yang dipamerkan, maka ghirah-nya telah terkikis habis. Seharusnya ia merasa cemburu dan marah, bukan bangga.
  • Mengizinkan Pergaulan Bebas (Pacaran): Seorang ayah yang mengizinkan putrinya untuk berpacaran, pergi berduaan dengan laki-laki asing, adalah bentuk nyata dari sifat dayyuts karena ia membiarkan pintu-pintu zina terbuka lebar bagi anaknya.

Oleh karena itu, marilah kita introspeksi diri. Sudahkah kita memiliki ghirah yang benar? Ghirah yang didasari ilmu dan hikmah, bukan cemburu buta yang penuh curiga dan kekerasan. Ghirah yang diejawantahkan dalam bentuk pendidikan, nasehat yang lembut, keteladanan yang baik, serta ketegasan dalam menegakkan batasan-batasan syariat di dalam rumah tangga kita. Ingatlah hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829).

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menumbuhkan dalam diri kita sifat ghirah yang terpuji, dan menjauhkan kita sejauh-jauhnya dari sifat dayyuts yang tercela, sehingga kita mampu menjaga diri dan keluarga kita dari api neraka.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ للهِ ..

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Dari penjelasan pada khutbah pertama, dapat disimpulkan bahwa:

  1. Ghirah adalah sifat terpuji yang wajib dimiliki setiap muslim, terutama dalam menjaga kehormatan keluarga.
  2. Dayuts adalah sifat tercela yang diancam dengan larangan masuk surga, yaitu sikap tidak peduli terhadap kemungkaran yang menimpa keluarga.
  3. Di era media sosial, tantangan terhadap ghirah semakin besar. Penyebaran foto, video, dan privasi keluarga melalui media sosial merupakan bentuk hilangnya ghirah dan jatuh ke dalam sifat dayuts.
  4. Setiap suami dan ayah bertanggung jawab penuh untuk menjaga keluarganya dari fitnah media sosial dan berbagai bentuk kemungkaran modern.

Marilah kita camkan dalam hati bahwa ghirah adalah mahkota kemuliaan bagi seorang laki-laki mukmin. Ia adalah perisai yang menjaga kehormatan keluarganya dan benteng yang melindungi mereka dari murka Allah. Tanpa ghirah, seorang laki-laki kehilangan salah satu esensi kepemimpinannya, dan rumah tangganya menjadi rapuh di hadapan badai fitnah dan kemaksiatan.

Jangan pernah meremehkan dosa dayyuts. Membiarkan kemungkaran merajalela di bawah atap rumah kita dengan alasan apapun adalah sebuah kebinasaan. Mari didik istri dan putra-putri kita dengan ilmu agama, tanamkan rasa malu yang bersumber dari iman, dan jadilah teladan terbaik dalam menjaga batasan-batasan Allah. Itulah jalan keselamatan, jalan menuju keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, yang dinaungi keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang memiliki ghirah yang benar, yang menjaga amanah, dan yang melindungi kehormatan keluarga dari segala bentuk kehinaan.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللهم صل وسلم وبارك على محمد وعلى أل محمد. إنك حميد مجيد.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. إنك سميع قريب مجيب الدعوات. ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Copyright © 2026 Abu Azzam Al-Banjary